152319_camry

Komparasi Konsumsi BBM Toyota Camry Hybrid vs Mercedes-Benz E250 CDI

PROMO SUZUKI AKHIR TAHUN

Komparasi Konsumsi BBM Toyota Camry Hybrid vs Mercedes-Benz E250 CDI | Mendengar kata hybrid atau hibrida pasti pikiran kita langsung mengarah kepada teknologi canggih yang rumit. Di Indonesia baru segelintar pabrikan saja yang berani memasarkan mobil hybrid ini, salah satunya adalah Toyota Camry Hybrid yang telah menuai respon cukup baik di Tanah Air. Toyota Hybrid Synergy Drive, begitu Toyota menamakan sistem mesin gandanya ini, terdiri dari gabungan antara mesin bensin dan motor listrik. Mesin ini merupakan hasil adopsi dari dua jenis mesin hybrid yang berbeda, yakni hybrid series dan hybrid paralel.

Pada mesin hybrid tipe series, mesin bensin hanya bertugas memutar generator untuk mensuplai listrik ke baterai, sebagai sumber energi untuk menggerakkan roda. Kelebihan pada mesin tipe ini, konsumsi BBM sangat irit karena mesin hanya bertugas menggerakkan generator saja, sementara mobil bergerak dengan tenaga listrik. Namun kekurangannya, performa mobil tidak sebaik yang diharapkan. Yang kedua, sistem hybrid paralel. Mesin bensin pada tipe paralel bertugas sebagai penggerak utama, yang dibantu oleh motor listrik. Kelebihan sistem paralel, performa mobil dapat diandalkan, namun konsumsi bbm tidak akan seirit tipe series.

Toyota menambahkan Power Split Device, yang berfungsi secara konstan mengatur rasio tenaga mesin bensin dan motor listrik ke roda, sesuai dengan kebutuhan pengemudi. Sehingga, antara mesin bensin dan motor listrik bisa bersinergi untuk menggerakkan mobil. Pada teknologi ini pabrikan asal Jepang ini menanamkan Inverter sebagai pengubah arah listrik searah dari baterai menjadi arus bolak-balik agar dapat menggerakan motor listrik dan mengubah arus bolak-balik dari power unit untuk menjadi arus searah untuk mengisi baterai.

Yang kedua yaitu power unit untuk menghasilkan tenaga yang responsif, efisien bahan bakar dan ramah lingkungan. Baterai yang lebih ringan yang terbuat dari nikel-metal hydride (Ni-MH) dari mobil listrik pada umumnya tapi dapat menghasilkan tenaga tiga kali lebih besar untuk menambah perfoma pada mesin. Saat mobil dihidupkan, motor elektrik akan bekerja terlebih dahulu dengan asupan tenaga dari baterai yang diletakkan di bagasi. Karena itu, jangan kaget kalau mobil ini bergerak tanpa suara dan getaran sama sekali. Seiring dengan bertambahnya kecepatan, mesin bensin empat silinder milik Camry Hybrid akan bekerja menyuplai tenaga ke roda, sekaligus mengisi ulang baterai.

Penyalur daya ke roda mengandalkan transmisi CVT yang dengan cerdas mampu menggerakkan roda berdasarkan input dari mesin konvensional ataupun generator tadi. Sistem komputerisasi yang canggih memastikan transmisi melakukan tugasnya dengan halus dan tanpa terasa oleh penumpang maupun pe-ngendaranya. Jadi, bayangkan Camry Hybrid yang sedang terjebak kemacetan. Sistem ini akan sangat membantu karena mesin konvensionalnya akan jarang bekerja, dan tugas untuk menjalankan mobil diemban oleh motor listrik. Otomatis bahan bakar pun akan lebih sering tersimpan di dalam tangki. Ketika baterai yang menggerakkan motor listrik sudah kehabisan daya, mesin bensin 2.5 liter akan menyala dengan suara dan getaran hampir tidak terdengar dan tidak dapat dirasakan.

Sekarang bagaimana dengan lawannya, Mercedes-Benz E250 CDI bermesin diesel? Diesel yang diusung oleh mobil ini dapat dibilang adalah mesin berteknologi konvensional dengan sentuhan teknologi canggih. Apa yang membuat mesin diesel modern ini dapat menjadi begitu irit dan ramah lingkungan ada pada cara kerjanya dan bahan bakar yang digunakan. Diesel modern yang mengandalkan sistem injeksi langsung common rail mampu menghasilkan pasokan bahan bakar ke ruang bakar dengan lebih presisi untuk menghasilkan ledakan dan langkah kompresi.

E-Class yang Anda lihat disini menggunakan bahan bakar sekelas Pertamina Dex yang memiliki kandungan sulfur yang rendah (500 ppm). Hal ini dikarenakan sistem pembakaran yang memang mengharuskan bahan bakar diesel yang bersih, untuk menghindari kerusakan komponen. Dengan injeksi langsung (direct injection), bahan bakar dan udara tidak lagi bercampur sebelum masuk ke ruang bakar. Yang ada adalah, bahan bakar disemprotkan langsung ke dalam ruang bakar sesaat sebelum langkah kompresi terjadi, secara presisi. Pada beberapa mobil, seperti Mercedes-Benz E250 CDI ini, penyemprotan diatur oleh sistem elektronik yang kompleks, dan disesuaikan dengan kebutuhan pengendaraan.

Pada mesin CDI milik Mercedes-Benz, bahan bakar disemprotkan dengan tekanan bervariasi antara 400 hingga 2.000 bar, sesuai kebutuhan. Selain itu, peranti turbocharger dua tahap (two stage) membantu memasukkan udara dengan lebih kuat sehingga membantu proses pembakaran dan menghasilkan tenaga serta torsi yang lebih besar. Khusus untuk E250 CDI, torsinya mencapai 500 Nm. Sebuah torsi yang luar biasa untuk mobil saloon.

Namun untuk menghasilkan mesin yang efisien, Mercedes-Benz tidak hanya berhenti sampai di situ. Mereka memperhitungkan juga thermal management (pengaturan panas mesin) yang optimal, sehingga pembakaran bisa lebih sempurna. Seperti kita ketahui, mesin diesel memerlukan panas mesin yang tepat untuk menghasilkan pembakaran. Hal ini didapat dari adanya pompa air dan oli yang dikendalikan secara elektronik untuk menghasilkan pendinginan blok mesin dan piston yang optimal. Selain itu, hadir juga sistem automatic start/stop yang seperti i-Stop, akan mematikan mesin saat sedang idle. Sebagai penerus daya, Mercedes-Benz membekali E250 CDI dengan transmisi 7-speed otomatis, yang rasionya memastikan penyaluran tenaga tetap konsisten di setiap tingkat putaran mesin, dan juga membantu mendapatkan putaran mesin yang optimal di setiap tingkat kecepatan.

Uji Efisiensi

Hasil pengujian oleh kami ternyata membuktikan jika teknologi mobil hybrid tidak bisa dibilang irit jika dibandingkan dengan mobil bermesin diesel. Karena berdasarkan hasil tes luar kota Mercedes-Benz E250 CDI berhasil meraih konsumsi BBM sebesar 18,41 kpl dengan jarak 195 km pada kecepatan rata-rata 71 kpj. Sementara Toyota Camry Hybrid terpaut tipis dengan 18,31 kpl untuk jarak 196,4 km dengan kecepatan rata-rata 66 kpj.

Hal ini disebabkan, ketika dibawa melintasi jalur luar kota, dan melaju dalam kecepatan tinggi, mobil berteknologi hybrid sebagian besar menggunakan tenaga mesin bensin mobil itu sendiri sehingga mendorong konsumsi BBM yang lebih tinggi. Hal tersebut berbanding terbalik dengan mobil diesel yang cenderung lebih efisien saat diajak berjalan jauh. Karena memang torsi besar milik Mercedes-Benz tadi mampu membuat mesin berputar santai setiap saat. Bahkan sangat jarang putaran mesin melebihi 1.500 rpm, padahal kecepatan mencapai 100 kpj. Itulah kenapa E250 CDI sangat hemat saat diajak menjelajah di jalan bebas hambatan.
Nah saat berkendara di dalam kota baru mobil hybrid menampakkan jati dirinya. Hasil pengujian kami mencatat jika Toyota Camry Hybrid hanya membutuhkan tidak sampai 1 liter bensin (hanya 0,95 liter) untuk menempuh jarak 42,3 km dengan kecepatan rata-rata 18 kpj yang berarti konsumsi BBM-nya mencapai 44,5 kpl. Sementara E250 CDI membutuhkan 3,16 liter untuk menempuh jarak 43 km dengan kecepatan rata-rata 18 kpj, artinya konsumsi BBM mesin diesel ini mencapai13,6 kpl.

Hasil yang sangat signifikan ini berarti konsumsi BBM dari mobil bertenaga hibrida mampu ditekan saat melalui medan perkotaan yang tidak menuntut kecepatan tinggi saat melaju. Hal tersebut disebabkan ketika mobil hibrida melaju dengan kecepatan rendah, maka yang bertugas menggerakkan roda adalah motor bertenaga listrik.

Kesimpulan

Banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah. Sama halnya dengan niat pabrikan mobil dalam memproduksi mobil yang efisien. Jika dulu, untuk memiliki mobil yang efisien opsinya adalah mobil dengan mesin berkapasitas kecil serta performa dan kenyamanan yang terbatas, saat ini berbeda. Perkembangan teknologi yang semakin maju dapat mendobrak batasan mekanikal dan menghasilkan efisiensi sesuai dengan keinginan konsumen.

Salah satunya adalah teknologi SkyActiv yang terbukti dengan gairah para insinyur Mazda berhasil menciptakan teknologi irit bahan bakar tanpa mengorbankan performa dan kenyamanan serta  keselamatan. Teknologi CVT pada transmisi juga membuktikan jika perubahan ini membawa dampak yang positif terhadap konsumsi BBM. Sementara mesin diesel modern tetap bisa mempertahankan efisiensi khas diesel dengan mereduksi kelemahan diesel lama. Terakhir adalah teknologi hybrid yang digadang-gadang sebagai teknologi mutakhir yang sangat ramah lingkungan. Nyatanya keunggulan hybrid dalam efisiensi masih sebatas pada penggunaan dalam kota saja. Bagaimanapun perkembangan teknologi baterai masih menjadi pekerjaan rumah bagi para produsen kendaraan hybrid.

Namun perlu diingat untuk bisa mendapatkan efisiensi bahan bakar yang maksimal Anda tentu perlu melakukan perawatan kendaraan secara rutin agar performa dan pembakaran bahan bakar kendaraan tetap stabil. Setelah itu baru diperhatikan apakah teknik berkendara Anda sudah tepat dan baik sehingga dapat menekan konsumsi bahan bakar semaksimal mungkin. Jika salah satu ini belum bisa Anda penuhi maka jangan harap teknologi secanggih apapun bisa membantu Anda untuk tetap efisien.

 

Posted in Komparasi and tagged , , .