pertalite vs premium

Perbandingan Pertalite VS Premium

PROMO SUZUKI AKHIR TAHUN

Perbandingan Pertalite VS Premium | Pertamina telah resmi menjual bahan bakar minyak (BBM) terbaru berlabel Pertalite. Tapi mampukah bensin dengan kadar oktan RON 90 ini meruntuhkan hegemoni Premium?

Tepat di 27 Juli lalu, PT Pertamina (Persero) resmi menjual Pertalite untuk pertama kalinya dengan harga Rp 8.400. Posisi Pertalite ini pun berada di tengah antara Premium dan Pertamax.

“Pertalite merupakan varian produk bahan bakar gasoline yang diformulasikan Pertamina untuk konsumen yang menghendaki bahan bakar dengan pembakaran yang lebih baik dan harga terjangkau,” ujar Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina saat launch Pertalite di Jakarta.

Terkait kehadiran Pertalite, Pertamina sudah dengan tegas menyatakan jika Pertalite bukanlah sebagai pengganti Premium. Meski begitu, Pertalite juga bensin tanpa timbal.

Pertalite diproduksi dari Nafta (Naptha) yang merupakan produk hasil pengilangan minyak dan diproses dengan teknik HOMC (High Octane Mogas Component) kemudian diberi berbagai aditif. Mirip dengan Pertamax dengan RON 92, tapi dengan spesifikasi yang tentu saja berbeda.

Sebelum hadir Pertalite, praktis Premiumlah yang menjadi bensin primadona mayoritas pengguna kendaraan dibanding Pertamax, apalagi Pertamax Plus. Nah, inilah waktu yang tepat bagi kami untuk menguji sekaligus membandingkan, apakah dengan harga yang kompetitif, performa Pertalite bisa lebih baik dibandingkan dengan dengan Premium?

Pengujian independen Pertalite melawan Premium pun kami lakukan untuk mengukur beberapa poin penting. Pertama ialah membandingkan tenaga dan torsi mesin, kemudian akselerasi, tingkat efisiensi, dan mengukur tingkat emisi. Benarkah Pertalite layak dan lebih baik dibanding Premium? Simak hasil pengujian kami.

Dynotest

PT Pertamina (Persero) mengatakan bahwa Pertalite memiliki oktan yang lebih tinggi dari Premium, yakni Research Octance Number (RON) 90 untuk Pertalite dan RON 88 untuk Premium. Hasil tes kami perbedaan oktan tersebut memberi dampak nyata saat kami uji keduanya di mesin yang sama.

Sebagai unit tes kami menggunakan mesin Datsun GO+ Panca dengan kondisi standar pabrik (stock). Mesin ini berkonfigurasi 3 silinder dengan kapasitas 1.198 cc. Sementara untuk tempat pengujian dyno, kami mempercayakan pada dynotest Dastek Dynometers milik REV Engineering yang berada di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.

Untuk Premium, mesin Datsun merilis tenaga hingga 78,4 dk di putaran 5.000 rpm. Sedangkan momen puntir maksimal adalah 127,1 Nm di 4.000 rpm. Angka ini lebih rendah dari Pertalite karena BBM baru Pertamina itu mampu meraih 82 dk di putaran yang sama. Sementara untuk torsinya, Pertalite juga memberi hasil lebih baik dengan catatan 130,7 Nm pada 4.000 rpm.

Ini berarti dengan mesin Datsun GO+ Panca yang sama, Pertalite memberi 3,6 dk lebih besar dan 3,6 Nm lebih tinggi dari Premium.

Akselerasi

Setelah mendapat hasil dynotest, pengetesan berikutnya adalah performa akselerasi. Jika benar dugaan kami, seharusnya output yang lebih besar membuat perbedaan nyata ketika Datsun Go+ Panca kami isi dengan Pertalite.

Pengujian kami lakukan dengan menggunakan alat tes Racelogic. Di pengetesan akselerasi, ada 2 parameter yang kami terapkan yakni 0-60 km/jam dan 0-100 km/jam. Pada 0-60 km/jam adalah gambaran akan kecekatannya berakselerasi penuh di jarak yang pendek. Sementara 0-100 km/jam merupakan pengerahan tenaga mesin dengan kekuatan penuh pada jarak lebih jauh dan kecepatan lebih tinggi.

Saat kami tes dengan bahan bakar Premium, Datsun GO+ menye­lesaikan 0-60 km/jam dalam 5,6 detik. Lalu di parameter 0-100 km/jam, dituntaskannya dalam 14 detik.

Ketika menggunakan Pertalite, seperti dugaan kami, Pertalite memberi hasil lebih baik dari Premium. Hasil terbaik kami di pengujian 0-60 km/jam adalah 5,1 detik. Berlanjut di tes 0-100 km/jam, waktunya juga lebih tajam dengan catatan 13,7 detik. Kesimpulannya Pertalite membawa Datsun Go+ Panca bergerak lebih laju dengan lebih cepat 0,5 detik di 0-60 km/jam dan 0,3 detik di 0-100 km/jam.

Efisiensi

Untuk pengujian efisiensi BBM Premium dan Pertalite, kami cukup dibantu dari data MID. Sementara untuk memantau kecepatan rata-rata baik di rute tol dan dalam kota, kami menggunakan bantuan GPS.

Terbukti dengan kadar RON yang lebih tinggi, Datsun GO+ Panca menggunakan Pertalite mampu memberikan hasil yang lebih baik. Catatan konsumsi BBM di tol dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam mencapai 23,4 km/l. Sementara untuk rute dalam kota dengan kecepatan rata-rata 22-23 km/jam bisa mendapatkan 13,6 km/l.

Catatan ini tentu lebih baik ketimbang mobil menggunakan Premium. De­ngan metode yang sama, pengukuran konsumsi BBM untuk rute tol hanya meraih 22,5 km/l, sedangkan di rute dalam kota 13,4 km/l.

Terlihat jika konsumsi BBM Datsun GO+ Panca dengan Pertalite saat di rute tol terpaut 0,9 km/l lebih baik diban­ding menggunakan Premium. Sementara untuk konsumsi BBM di rute dalam kota, penggunaan Pertalite hanya lebih baik tipis 0,2 km/l.

Emisi

Pengujian emisi merupakan faktor penting berikutnya yang kami uji. Kami menggunakan alat uji emisi milik bengkel Nawilis yang berada di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Ada 2 parameter utama yang kami ukur dalam uji emisi yakni Hydrocarbon (HC) dan Lambda. Hydrocarbon adalah sisa bahan bakar yang tidak terbakar dan ikut terbuang lewat knalpot. Ini bisa terjadi akibat penyebaran panas di ruang bakar yang tidak merata. HC maksimal untuk mobil injeksi seperti Datsun Go+ Panca adalah 250 ppmVol. Lebih dari itu tentu tidak sehat.

Sedangkan Lambda adalah kesempurnaan proses pembakaran yang terjadi di ruang bakar. Kesempurnaan ini bisa terjadi jika bahan bakar tercampur semua dengan udara alias homogen. Nilai lambda ideal adalah 1, tapi sangat jarang mencapai hasil sempurna dengan angka 1. Akhirnya banyak mekanik memberi toleransi angka lambda yang baik adalah 0,95-1,05.

Hasilnya? HC dari penggunaan Premium adalah 5 ppmVol. Sangat rendah karena memang kondisi mesinnya sangat sehat. Sementara Pertalite secara mengejutkan ada di angka 6 ppmVol. Memang lebih tinggi alias lebih beremisi, tapi sekali lagi kedua angka tersebut masih sangat aman karena berada jauh di batas toleransi.

Lalu di parameter lambda, Pertalite memberi 1,006 sedangkan Premium di 1,001. Sekali lagi angka ini menunjukkan bahwa Premium sedikit lebih bersih dibanding Pertalite. Meski begitu keduanya tetap berada di level yang sangat baik.
How We Tested

Untuk pengujian Pertalite vs Premium kami menggunakan satu mobil yang sama yaitu Datsun GO+ Panca. Mulanya kami menggunakan mobil ini dengan bahan bakar Premium untuk mendapatkan catatan tenaga dan torsi di atas mesin dynotest. Selanjutnya untuk akselerasi 0-100 km/jam kami menggunakan bantuan alat Racelogic

 

Untuk menguji efisiensi BBM kami melakukan dalam 2 tahap. Pertama untuk rute dalam kota mobil dibawa konstan pada kecepatan 22-23 km/jam sejauh 100 km. Sementara untuk pengetesan konsumsi BBM di tol, mobil dibawa pada kecepatan konstan 80 km/jam juga dengan jarak tempuh 100 km.

Pengukuran terakhir kami menguji kadar emisi gas buang dari Datsun GO+ Panca ini. Nah setelah mendapatkan data dari BBM Premium, barulah kami kuras tangki bensin hingga benar-benar steril dan mengganti dengan Pertalite untuk melakukan pengujian yang sama.

Kalau dari sisi RON, an ta ra Premium dengan Pertalite, bisa dilihat dari gra fik power dan torque yang hasil tes dyno memang ada perbedaan cukup signifikan. Datsun GO+ Panca ini tidak cocok menggunakan RON 88 karena dibandingkan dengan RON 90 yaitu Pertalite, power-nya berbeda signifikan.

Konklusi saya, me sin Datsun ini kalau menggunakan Pertalite saja sudah cukup. Karena jika mesin diberi oktan yang lebih tanpa memperhatikan kondisi rasio kompresi yang ada, malah belum tentu power-nya akan naik. Jadi akan sia-sia.

Sumber

Posted in Komparasi and tagged , .