gigi mobil matic

Kelebihan Serta Kekurangan Transmisi Torque Converter, CVT dan Dual Clutch

PROMO SUZUKI AKHIR TAHUN

Kelebihan Serta Kekurangan Transmisi Torque Converter, CVT dan Dual Clutch | Seiring dengan majunya teknologi otomotif, kini konsumen yang ingin mengendarai mobil transmisi otomatis pun punya banyak pilihan yang dapat disesuaikan dengan karakter dan kebutuhannya. Kalau dulu kita hanya mengenal transmisi matik dengan torque converter, kini ada versi CVT dan dual clutch yang kian menjamur sebagai pilihan yang menawarkan keunikan tersendiri.

Terus, memangnya apa sih bedanya ketiga jenis transmisi tanpa pedal kopling ini? Ternyata mereka sangat berbeda satu sama lain meski sama-sama punya huruf P,R,N dan D di transmisi. Apa saja bedanya? Yuk kita bahas bersama-sama!

Transmisi otomatis torque converter

Kita mulai dengan yang paling konvensional. Transmisi matik dengan torque converter punya komponen utama berupa planetary gear unit (gir planet), hydraulic control unit dan tentu sajatorque converter. Umumnya, transmisi otomatis versi ini menggunakan wet clutch alias kopling basah, lalu dioperasikan oleh torque converter untuk memperbesar momen mesin. Saat sudah mencapai putaran tertentu dan waktunya untuk pindah gigi, komputer akan menyuruh torque converter untuk bekerja melakukan perpindahan gigi.

Umumnya, komputer transmisi otomatis bisa membaca situasi berkendara dari cara kita menginjak gas. Contohnya, saat berkendara rileks kita akan sadar kalau di rpm 3.000-an gigi sudah berpindah, namun saat berkendara agresif atau melakukan kickdown, komputer akan memilih gigi yang lebih rendah agar tenaga yang besar dan putaran mesin yang tinggi bisa kita dapatkan. Dengan hadirnya mode manual di transmisi otomatis modern, masalah engine brakingpun bisa dieliminasi.

Kelebihan transmisi jenis ini adalah perawatannya cenderung lebih mudah daripada CVT ataupundual clutch. Khusus bagi pengemudi antusias, transmisi otomatis umumnya masih memiliki entakan saat kita melakukan kickdown sehingga feeling dan performa saat berkendara lebih terasa.

matic

Sementara kekurangannya, karena masih adanya entakan saat pindah gigi, transmisi otomatis pada umumnya tak senyaman dan sehalus CVT. Urusan bobot komponen, ia lebih ringan daridual clutch tapi masih lebih berat daripada CVT. Transmisi ini juga lebih boros BBM daripada CVT atau dual clutch dalam kondisi macet, karena torque converter terus berputar namun mobil kita rem agar tidak maju. Itulah kenapa sebaiknya jika memungkinkan, sempatkan pindahkan gigi ke posisi N untuk mencegah BBM lebih banyak terbuang.

Contoh mobil-mobil yang menggunakan transmisi matik torque converter adalah : Toyota Yaris, Honda Jazz GE8 (generasi kedua), Suzuki Ertiga, Mazda 2, Chevrolet Spin, Daihatsu Sirion dan masih banyak lagi.

CVT (Continously Variable Transmission)

Berikutnya mari kita mengenal CVT. CVT adalah jenis transmisi yang terkenal sangat halus dan lembut saat diajak berkendara dibandingkan transmisi matik biasa yang umumnya masih memiliki entakan, sementara CVT sangat halus, tak mengentak dan umumnya lebih irit BBM jika mobil dalam kondisi sehat. Mengapa bisa begitu?

Rahasianya adalah, karena CVT tak punya roda gigi sama sekali. Tak ada sekumpulan gir yang bersemayam di ruang transmisinya. Sebagai gantinya, ada dua puli yang dihubungkan oleh sebuah sabuk, di mana puli yang satu mendapat tenaga dari mesin sementara puli yang lain akan bekerja memutar roda. Diameter kedua puli ini dapat membesar dan mengecil tergantung kebutuhan pengendara.

Karena tak punya roda gigi, jumlah gear ratio di CVT bisa dibilang tak terbatas. Maka dari itu saat ingin disematkan mode manual, produsen bisa memasukkan berapa pun jumlah gigi yang mereka mau secara virtual. Contohnya, jika di Mitsubishi Delica CVT-nya punya 6 pecepatan, di Honda Jazz generasi pertama CVT-nya punya 7 percepatan. Layaknya transmisi otomatis biasa, CVT juga punya mode sport untuk karakter lebih galak seperti pada Nissan Grand Livina baru.

matik

Kelebihan penggunaan CVT pada mobil adalah lebih halus dan nyaman karena tak memiliki entakan sebagai akibat dari perpindahan gigi seperti transmisi otomatis lainnya. Secara bobot, CVT adalah yang paling ringan karena jumlah komponennya tak sebanyak torque converter ataupun dual clutch. Ongkos produksi CVT juga adalah yang termurah. Kendaraan ber-CVT juga biasanya irit BBM karena punya kemampuan untuk menjaga agar mesin tak melulu bermain di putaran tinggi.

Kekurangan CVT adalah akselerasi yang tak sespontan dan segalak transmisi otomatis biasa. Tenaga dari mesin mungkin tidak bisa sepenuhnya tersalurkan ke roda, yang umumnya diakibatkan oleh slippage alias gesekan dari belt dan puli CVT. Karena kekurangan inilah, hampir tidak ada mobil balap atau supercar yang pakai CVT untuk transmisinya, karena power lost-nya lumayan tinggi.

CVT juga terkenal rentan untuk mesin bertenaga besar, maka dari itu beberapa tahun lalu jarang kita temui mobil 2.000 cc memakai transmisi CVT. Kini setelah teknologi sabuk baja CVT makin baik, terutama dalam hal durabilitas, sudah banyak pabrikan yang menggunakannya di mesin lebih dari 2.000 cc, misalnya Subaru Forester STI dan Nissan X-Trail.

CVT bisa ditemui di hampir semua motor matik di Indonesia, sementara untuk mobil, kita bisa menemukannya di Subaru XV, Mitsubishi Outlander Sport, Honda City generasi pertama dan ketiga, Honda Jazz generasi pertama dan ketiga, Nissan X-Trail, Toyota Alphard dan Vellfire, Suzuki Swift Sport dan lain-lain. Oh ya, pemegang sebagian besar hak paten teknologi CVT adalah Subaru.

Transmisi kopling ganda/dual clutch

Ini dia teknologi transmisi otomatis yang paling baru. Seperti namanya, transmisi ini punya dua buah kopling yang siap beroperasi untuk membantu mesin menggerakan roda. Sebut saja kopling A dan kopling B di transmisi kopling ganda 6 percepatan, kopling A disiapkan untuk melayani gigi 1,3,5 dan mundur, maka kopling B dirancang untuk bekerja di gigi 2,4 dan 6.

Ketika misalnya kopling A sedang bekerja di gigi 1, kopling B sudah siap bersama dengan gigi 2 hingga komputer memerintahkan untuk ganti gigi. Ada dua jenis penggunaan tipe kopling di transmisi dual clutch, ada kopling basah (wet clutch) dan kopling kering (dry clutch). Keduanya punya kebutuhan dan tujuan yang berbeda, namun transmisi dengan kopling kering lebih simpel dan murah dibanding kopling basah.

Kelebihan transmisi dual clutch adalah bisa melakukan perpindahan gigi dengan sangat cepat dan halus, contohnya Ferrari F430 Scuderia yang bisa pindah gigi dalam waktu hanya 55 milidetik. Selain itu, performa transmisi ini juga dinilai paling responsif dibanding torque converteratau bahkan CVT. Inilah alasannya kenapa mobil sport atau supercar banyak yang pakai dual clutch.

matik3

Sementara kekurangannya, transmisi ini konstruksinya sangat rumit karena jumlah komponennya sangat banyak. Bobotnya pun adalah yang terberat dibanding CVT ataupun matik biasa. Selain itu, untuk beberapa kasus, biaya perbaikan transmisi dual clutch lumayan mahal dan lama. Di lain kondisi, transmisi kopling ganda bertipe dry clutch punya karakteristik judderalias ndut-ndutan saat dipakai dalam kondisi macet dan mudah panas. Namun kekurangan ini sirna di tipe transmisi kopling ganda dengan wet clutch.

Contoh mobil yang menggunakan transmisi dual clutch adalah Ford Fiesta, Ford EcoSport, Mitsubishi Lancer Evoluton X, Nissan GT-R, Porsche 911, Lamborghini Huracan, BMW M series, VW Golf GTi dan lain-lain. Pemegang mayoritas hak paten atas teknologi transmisi kopling ganda adalah Volkswagen dari Jerman.

Demikianlah kelebihan dan kekurangan transmisi torque converter, CVT dan kopling ganda. Manakah yang terbaik? Jawabannya adalah : semuanya baik. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tinggal disesuaikan dengan budget, tujuan pemakaian mobil dan penilaian anda saat mencoba ketiganya.

Sumber

Posted in News and tagged , , , .